Sebagai pengendara mobil, motor maupun kendaraan lain, berhati-hati di jalan adalah hal yang selalu harus dilakukan. Berkendara di negeri tercinta ini memang harus penuh kehati-hatian. Bahkan sudah berhati-hatipun masih saja mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan raya.
Beberapa kali mengunjungi negeri orang mau tidak mau membuat saya sedikit membandingkan kondisi jalan raya. Kalau kita menyebut negara yang tertib seperti Jepang atau Singapore mungkin agak butuh waktu untuk menyamainya, namun saat ke Vietnam saya cukup bangga bahwa kondisi berkendara di Indonesia masih lebih baik.
Belum banyak negara yang saya datangi, tapi coba saya sedikit bercerita mengenai hal-hal yang masih saya dari beberapa perjalanan singkat saya.
JEPANG
Saya cukup takjub dengan betapa tertibnya orang jepang dalam berkendara maupun berperilaku di tempat umum. Pengendara di jalan raya sangat "memuliakan" pejalan kaki. Ketika ada pejalan kaki yang akan menyeberang di zebra cross, mobil yang akan lewat otomatis melambat kemudian berhenti untuk mempersilakan pejalan kaki untuk menyeberang terlebih dahulu. Selama saya di Jepang, saya belum menemukan kemacetan panjang. Antrian kendaraan yang saya temui hanyalah ketika mereka berhenti di lampu merah. Lalu yang saya ingat, disana saya sangat jarang menemui sepeda motor berlalu lalang.
Selain attitude yang dibentuk sejak kecil, saya rasa peran transportasi umum di Jepang memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi jalan yang kondusif. Melihat kondisi beberapa kota yang saya singgahi, cukup mudah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan transportasi umum, baik berupa bis, maupun kereta. Kondisinyapun cukup nyaman.
Naik kendaraan umum di Jepang hampir dapat dipastikan tepat waktu, kecuali ada hal-hal tak terduga yang terjadi. Bila hal tak terduga terjadi yang menyebabkan keterlambatan mungkin 1 menit saja, akan diinformasikan kepada penumpang. Di dalam kereta ada layar yang akan menginformasikan keterlambatan disertai alasannya.
Oiya, bagi yang bertanya-tanya mengenai Shinkansen, kalau mau merasakan feelnya bisa coba deh naik Whoosh. Feelingnya hampir sama. Bedanya, jangkauan jarak shinkansen sudah jauh lebih luas dari hanya sekedar Jakarta-Padalarang. Tapi itupun karena mereka memang memiliki teknologi ini terlebih dahulu, jadi ya wajar saja. Mungkin suatu saat nanti rencana kereta cepat sampai ke Surabaya akan terwujud. Let's see.
THAILAND
Feelnya transportasi di Thailand mirip-mirip dengan Indonesia. Kepadatannya, komposisi motor dan mobilnya, trafficnya. Tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan sih. Mungkin hal spesial yang masih bertahan di thailand adalah tuk-tuk alias bajajnya thailand. Tuk-tuk masih banyak ditemukan dan menjadi ikon transportasi di sana.
SINGAPURA
Sebelum singgah ke Singapura, saya selalu membayangkan wahnya naik MRT. Ternyata ya sama sih seperti MRT di Indonesia. Alhamdulillah, sekarang Indonesia khususnya Jakarta sudah memiliki transportasi umum yang cukup layak dan tidak kalah dengan yang ada di Singapura. PRnya adalah meningkatkan kenyamanan, aksesibilitas dan integrasinya saja. Kalau itu bisa segera dibenahi, saya rasa makin banyak orang yang mau naik transportasi umum.
VIETNAM
Nah, berkendara di jalanan Vietnam ini cukup memorable bagi saya. Saat itu saya datang ke kota Hanoi untuk mengikuti seminar. Disela waktu kosong, pergilah kami untuk mengunjungi train cafe. Layout sekitar Train cafe ini mengingatkan saya dengan kondisi naik kereta api dari Bojonggede ke Bogor saat sekolah dulu, waktu melewati area Pasar Anyar sesaat sebelum memasuki Stasiun Bogor. Dimana jarak antara kereta dengan dinding rumah juga orang-orang yang berjualan sangat dekat. Uniknya, Vietnam bisa memanfaatkan area pemukiman warga yang sangat dekat dengan rel kereta menjadi suatu tempat wisata unik yang sangat diminati wisatawan.
Apa yang membuat jalanan Vietnam ini memorable adalah sepeda motor dan ojek onlinenya. Di sana, sepeda motor amat melimpah ruah di jalan raya, mirip yang ada di Indonesia. Namun, ternyata attitude pengendara sepeda motor di Indonesia masih lebih baik daripada pengendara Vietnam. Naik ojek online di Vietnam semacam wahana menantang maut. Helm yang dipakai disana tipikal model helm proyek, tentunya kalau dibawa ke Indonesia tidak mungkin memenuhi standar SNI. Pengendaranya ugal-ugalan, tidak mengenal lampu lalu lintas. Ketika jalan rayanya macet, kang ojek dengan sigapnya naik ke trotoar yang penuh dengan pejalan kaki dan pedagang. Hmm. Mungkin itu pengalaman yang cukup dialami sekali saja seumur hidup. Karena belum ada rencana kembali ke sana juga sih.
INDONESIA
Di negeriku yang tercinta ini, saat ini kondisi transportasinya sudah jauh lebih baik daripada saat saya kecil dulu. Bila boleh bernostalgia sejenak, saya dulu adalah pengguna KRL yang cukup setia sejak SD hingga SMA. Saya masih mengalami masa-masa KRL sering ditimpuk batu, banyak penumpang yang naik di atas atap, pintu KRL yang terbuka saat berjalan, KRL yang tiba-tiba berhenti karena ada tawuran pelajar dan ketika berhenti pelakunya malah naik dengan membawa senjata tajam, KRL yang penuh dengan pedagang asongan serta pengamen, penumpang yang naik tanpa tiket, sampai pengalaman terserempet batu yang dilempar ke dalam kerera. Alhamdulillahnya, sekarang hal-hal seperti itu sudah tidak terjadi. Saat ini dunia perkereta apian sudah jauh lebih baik dan nyaman. Ya mungkin di jam-jam tertentu masih penuh sesak, namun setidaknya sudah lebih aman.
Pengalaman 21 tahun berkendara di Indonesia, seringnya masih harus elus dada. Kita bisa saja sudah berhati-hati, namun pengguna jalan lain masih banyak yang seenaknya saja. Bedanya, kalau dulu saya mudah emosi melihat tingkah laku pengguna jalan yang "ajaib", sekarang seringnya hanya geleng-geleng kepala. Kadang saya merasa masih banyak pengguna jalan yang tidak paham rambu atau marka. Entah tidak paham atau tidak mau tau. Tidak sedikit juga pengguna jalan yang terlalu "kreatif" sehingga membuat lajur serta jalur baru demi menghindari lampu merah. Ketertiban, kepatuhan serta kesabaran pengguna jalan raya masih amat harus ditingkatkan. Mungkin sosialisasi hal-hal dasar berlalu lintas, seperti mengenal rambu dan marka jalan masih dibutuhkan.
Saat melihat kondisi yang belum ideal, hal yang selalu coba saya lakukan adalah setidaknya memperbaiki diri sendiri dulu. At least kita bisa jadi orang yang mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga kita bisa menjadi contoh bagi anak-anak kita. Saya tidak pernah berekspektasi untuk mengubah perilaku orang lain, karena orang lain hanya bisa berubah dengan hidayah dari Allah. Hmm.
So, hati-hati di jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar