a place where you can read, hear, and watch my expression.. about me, my life and everything.. enjoy..

Kamis, 26 Maret 2026

Hati-Hati di Jalan

Sebagai pengendara mobil, motor maupun kendaraan lain, berhati-hati di jalan adalah hal yang selalu harus dilakukan. Berkendara di negeri tercinta ini memang harus penuh kehati-hatian. Bahkan sudah berhati-hatipun masih saja mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di jalan raya.

Beberapa kali mengunjungi negeri orang mau tidak mau membuat saya sedikit membandingkan kondisi jalan raya. Kalau kita menyebut negara yang tertib seperti Jepang atau Singapore mungkin agak butuh waktu untuk menyamainya, namun saat ke Vietnam saya cukup bangga bahwa kondisi berkendara di Indonesia masih lebih baik. 

Belum banyak negara yang saya datangi, tapi coba saya sedikit bercerita mengenai hal-hal yang masih saya dari beberapa perjalanan singkat saya.

JEPANG
Saya cukup takjub dengan betapa tertibnya orang jepang dalam berkendara maupun berperilaku di tempat umum. Pengendara di jalan raya sangat "memuliakan" pejalan kaki. Ketika ada pejalan kaki yang akan menyeberang di zebra cross, mobil yang akan lewat otomatis melambat kemudian berhenti untuk mempersilakan pejalan kaki untuk menyeberang terlebih dahulu. Selama saya di Jepang, saya belum menemukan kemacetan panjang. Antrian kendaraan yang saya temui hanyalah ketika mereka berhenti di lampu merah. Lalu yang saya ingat, disana saya sangat jarang menemui sepeda motor berlalu lalang.

Selain attitude yang dibentuk sejak kecil, saya rasa peran transportasi umum di Jepang memegang peranan penting dalam menciptakan kondisi jalan yang kondusif. Melihat kondisi beberapa kota yang saya singgahi, cukup mudah untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan transportasi umum, baik berupa bis, maupun kereta. Kondisinyapun cukup nyaman.

Naik kendaraan umum di Jepang hampir dapat dipastikan tepat waktu, kecuali ada hal-hal tak terduga yang terjadi. Bila hal tak terduga terjadi yang menyebabkan keterlambatan mungkin 1 menit saja, akan diinformasikan kepada penumpang. Di dalam kereta ada layar yang akan menginformasikan keterlambatan disertai alasannya.

Oiya, bagi yang bertanya-tanya mengenai Shinkansen, kalau mau merasakan feelnya bisa coba deh naik Whoosh. Feelingnya hampir sama. Bedanya, jangkauan jarak shinkansen sudah jauh lebih luas dari hanya sekedar Jakarta-Padalarang. Tapi itupun karena mereka memang memiliki teknologi ini terlebih dahulu, jadi ya wajar saja. Mungkin suatu saat nanti rencana kereta cepat sampai ke Surabaya akan terwujud. Let's see.

THAILAND
Feelnya transportasi di Thailand mirip-mirip dengan Indonesia. Kepadatannya, komposisi motor dan mobilnya, trafficnya. Tidak terlalu banyak yang bisa diceritakan sih. Mungkin hal spesial yang masih bertahan di thailand adalah tuk-tuk alias bajajnya thailand. Tuk-tuk masih banyak ditemukan dan menjadi ikon transportasi di sana.

SINGAPURA
Sebelum singgah ke Singapura, saya selalu membayangkan wahnya naik MRT. Ternyata ya sama sih seperti MRT di Indonesia. Alhamdulillah, sekarang Indonesia khususnya Jakarta sudah memiliki transportasi umum yang cukup layak dan tidak kalah dengan yang ada di Singapura. PRnya adalah meningkatkan kenyamanan, aksesibilitas dan integrasinya saja. Kalau itu bisa segera dibenahi, saya rasa makin banyak orang yang mau naik transportasi umum.

VIETNAM
Nah, berkendara di jalanan Vietnam ini cukup memorable bagi saya. Saat itu saya datang ke kota Hanoi untuk mengikuti seminar. Disela waktu kosong, pergilah kami untuk mengunjungi train cafe. Layout sekitar Train cafe ini mengingatkan saya dengan kondisi naik kereta api dari Bojonggede ke Bogor saat sekolah dulu, waktu melewati area Pasar Anyar sesaat sebelum memasuki Stasiun Bogor. Dimana jarak antara kereta dengan dinding rumah juga orang-orang yang berjualan sangat dekat. Uniknya, Vietnam bisa memanfaatkan area pemukiman warga yang sangat dekat dengan rel kereta menjadi suatu tempat wisata unik yang sangat diminati wisatawan.

Apa yang membuat jalanan Vietnam ini memorable adalah sepeda motor dan ojek onlinenya. Di sana, sepeda motor amat melimpah ruah di jalan raya, mirip yang ada di Indonesia. Namun, ternyata attitude pengendara sepeda motor di Indonesia masih lebih baik daripada pengendara Vietnam. Naik ojek online di Vietnam semacam wahana menantang maut. Helm yang dipakai disana tipikal model helm proyek, tentunya kalau dibawa ke Indonesia tidak mungkin memenuhi standar SNI. Pengendaranya ugal-ugalan, tidak mengenal lampu lalu lintas. Ketika jalan rayanya macet, kang ojek dengan sigapnya naik ke trotoar yang penuh dengan pejalan kaki dan pedagang. Hmm. Mungkin itu pengalaman yang cukup dialami sekali saja seumur hidup. Karena belum ada rencana kembali ke sana juga sih.

INDONESIA
Di negeriku yang tercinta ini, saat ini kondisi transportasinya sudah jauh lebih baik daripada saat saya kecil dulu. Bila boleh bernostalgia sejenak, saya dulu adalah pengguna KRL yang cukup setia sejak SD hingga SMA. Saya masih mengalami masa-masa KRL sering ditimpuk batu, banyak penumpang yang naik di atas atap, pintu KRL yang terbuka saat berjalan, KRL yang tiba-tiba berhenti karena ada tawuran pelajar dan ketika berhenti pelakunya malah naik dengan membawa senjata tajam, KRL yang penuh dengan pedagang asongan serta pengamen, penumpang yang naik tanpa tiket, sampai pengalaman terserempet batu yang dilempar ke dalam kerera. Alhamdulillahnya, sekarang hal-hal seperti itu sudah tidak terjadi. Saat ini dunia perkereta apian sudah jauh lebih baik dan nyaman. Ya mungkin di jam-jam tertentu masih penuh sesak, namun setidaknya sudah lebih aman.

Pengalaman 21 tahun berkendara di Indonesia, seringnya masih harus elus dada. Kita bisa saja sudah berhati-hati, namun pengguna jalan lain masih banyak yang seenaknya saja. Bedanya, kalau dulu saya mudah emosi melihat tingkah laku pengguna jalan yang "ajaib", sekarang seringnya hanya geleng-geleng kepala. Kadang saya merasa masih banyak pengguna jalan yang tidak paham rambu atau marka. Entah tidak paham atau tidak mau tau. Tidak sedikit juga pengguna jalan yang terlalu "kreatif" sehingga membuat lajur serta jalur baru demi menghindari lampu merah. Ketertiban, kepatuhan serta kesabaran pengguna jalan raya masih amat harus ditingkatkan. Mungkin sosialisasi hal-hal dasar berlalu lintas, seperti mengenal rambu dan marka jalan masih dibutuhkan.

Saat melihat kondisi yang belum ideal, hal yang selalu coba saya lakukan adalah setidaknya memperbaiki diri sendiri dulu. At least kita bisa jadi orang yang mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga kita bisa menjadi contoh bagi anak-anak kita. Saya tidak pernah berekspektasi untuk mengubah perilaku orang lain, karena orang lain hanya bisa berubah dengan hidayah dari Allah. Hmm.

So, hati-hati di jalan.

Selasa, 24 Maret 2026

Membaca Curhatan Sejawat

Belakangan ini, kalau saya menelusuri media sosial, khususnya Threads, saya menemukan banyak (bukan satu atau 2 saja) postingan baik itu dokter, dokter gigi bahkan dokter spesialis yang "curhat" mengenai profesinya. Kalau saya ambil kesimpulan "kasar", banyak yang merasa profesinya tersebut terkadang kurang dihargai, khususnya terkait ketidakseimbangan "risiko" profesi terhadap "materi" sebagai timbal balik jasa yang diberikan.

Memutuskan untuk memiliki profesi sebagai tenaga medis, baik dokter maupun dokter gigi apalagi yang sudah spesialis pastinya ada intensi untuk dapat mengaplikasikan ilmunya agar dapat bermanfaat bagi orang lain. Menolong orang lain. Namun, tentunya sebagai individu, kita semua pasti berharap memiliki sebuah profesi yang dapat memberikan kesejahteraan bagi diri dan keluarga.

Dokter dan Dokter Gigi (apalagi spesialis) dipandang sebagai profesi yang "wah" dari segi materi. Orang dengan profesi tersebut dianggap berkecukupan. Bayangkan saja, kuliahnya membutuhkan biaya, waktu serta kinerja otak dan mental yang "maksimal". So, pasti kalau sudah lulus dan bekerja pasti incomenya besar. Mungkin itu yang orang-orang bayangkan.

Kenyataannya? Ternyata masih banyak yang curhat di media sosial dan diamini banyak komentar netizen dengan profesi yang sama.

Oh. Tentu nggak semuanya sih. Ada juga yang kesejahteraannya sesuai dengan ekspektasi kebanyakan orang. 

What I'm trying to say is job security masih perlu untuk ditingkatkan. Bahkan Noble Job saja masih belum secure in certain way.

What can we do?

At least for yourself, we need to keep upgrading and updating our knowledge and skills, always be grateful and it's also important for us to learn financial management and planning.

Bersyukur adalah hal yang penting terutama bagi seorang muslim.

Tetap semangat untuk kita semua. Apapun profesimu, semoga membawa kebahagiaan dan keberkahan, baik untukmu, keluargamu dan orang-orang disekitarmu. Iya. Kamu.

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih'."
Q.S Ibrahim Ayat 7

Selasa, 01 Juli 2025

Jangan Terlalu Baik

"Jangan terlalu baik, dok"
"Jangan ngalah terus lah, mbak"
Bahkan seseorang yang belum lama mengenal saya, memberikan komentar itu.
Entah apa yang orang lain nilai.
Saya hanya berharap saya bisa tetap menjadi diri yang bertindak sesuai hati nurani.


Minggu, 01 Januari 2023

2023

Hey, sudah tahun 2023.

Dan berarti sudah 2 tahun lebih tidak menulis di blog ini.

Banyak cerita yang belum tersampaikan.

Let's highlight what happened in my life for these last 2-3 years.

2020

Kehilangan

Tahun dimana saya dan suami dihadapkan pada suatu kondisi yang sulit. Kali pertama saya merasakan kehilangan yang begitu membekas. Anak ke-3 kami harus berpulang mendahului kami di usia jelang 6 bulannya berada di rahim saya. Dear, Ceisya. Semoga pilihan-pilihan yang kami ambil dimasa itu merupakan yang terbaik untukmu. 

2021

Belajar

Pertengahan tahun 2021, status saya berubah menjadi mahasiswa lagi. Alhamdulillah, tahun 2021 ini saya berkesempatan kembali menuntut ilmu, menjadi seorang mahasiswa residen. Jaket kuning yang sempat jadi impian masa lalu akhirnya berhasil digapai tahun ini. Semoga menjadi salah satu jalan yang berkah untuk meningkatkan ilmu dan keterampilan yang nantinya bisa lebih bermanfaat baik bagi diri sendiri, keluarga dan tentunya pasien.

2022

Uang Kaget

Hal ini mungkin merupakan momen sekali seumur hidup. Saya dan Suami terpilih menjadi peserta acara TV Uang Kaget Untuk Semua. Waw. Siapa sangka. Berawal dari kami yang sedang mengantar anak-anak les di sebuah mall, tiba2 dihampiri dan berhasil menjadi yang terpilih untuk membelanjakan uang dengan nominal tertentu. Alhamdulillah. Rejeki memang bisa datang dari mana saja di waktu yang mungkin tidak di duga.

COVID-19

Kami sekeluarga dinyatakan (+) COVID-19 di pertengahan bulan Agustus. Setelah bertahan 2 tahun, qadarullah kami menjadi penyintas COVID-19.

Japan

Yes, Alhamdulillah, untuk pertama kalinya, saya berkesempatan mengunjungi jepang. Bukan berlibur, namun memenuhi salah satu program yang harus dilalui dalam menyelesaikan pendidikan Spesialis saya. Pengalaman kurang lebih 3 minggu di Jepang sangat berkesan. Kami mengunjungi Jepang pada masa akhir musim gugur menuju kemusim salju. Udara cukup dingin. Tujuan utama kami adalah Niigata, karena program yang kami jalani bertempat di Niigata University.

Niigata merupakan kota yang nyaman. Kotanya bisa dibilang cukup sepi dan jauh sekali dari suasana hectic ketika saya mengunjungi Osaka dan Tokyo. Sepertinya bakal betah kalau tinggal disana.


2023

Hidup terus berjalan. Di tahun ini saya hanya berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, lebih dekat dengan Allah, dan dapat menyelesaikan segala tanggung jawab dengan baik sebagai seorang Ibu, Isteri, Anak, Mahasiswa, Kakak dan peran-peran saya lainnya. Aamiin. 

Rabu, 10 Juni 2020

New Adventure

Ada hal yang terjadi secara tiba-tiba. Agak diluar dugaan, karena ini memang diluar rencana kami. Sesuatu yang membuat kami sangat bersyukur walau agak mengejutkan. We're going to have a new adventure. Each member of the family will have our new role. Semoga kami bisa menjaga, memaknai, dan menjalaninya dengan baik. Terima kasih Allah atas segala nikmat yang engkau berikan kepada kami. Alhamdulillah.

Kamis, 04 April 2019

Stay At Home Mom

Sudah 2x merasakan jadi stay at home mom, temporarily, pastinya di masa cuti melahirkan anak pertama dan anak kedua. Diluar sana masih banyak yang membanding-bandingkan which one is better, being stay at home mom or working mom. But, I think, 2 hal tersebut sama2 bentuk perjuangan seorang ibu, cara and battlefieldnya aja yang berbeda. Berdasar pengalaman saya jadi stay at home mom dalam waktu singkat, ada beberapa hal yang bisa saya ceritakan.

Pertama, being a stay at home mom, bonding dengan anak lebih intens. Pastinya dong. 24 jam bareng anak itu jadi tahu apa saja yang dia lakukan, perkembangannya seperti apa, makan apa saja, dll. Tp kali ini agak beda. Since I have a toddler and a baby with me. Kadang 24 jam bareng anak itu cukup menantang, dan menguras tenaga plus emosi. Saat ibunya lagi ngurusin Baby, sang Toddler cari perhatian dengan tingkahnya yang terkadang begitu ajaib. Waktu nemenin Toddler main, Babynya nangis minta susu. Saat berhasil menidurkan si baby dan saya ngantuk berat, si Toddler ngga mau tidur. Begitu toddler tidur, bayinya bangun lagi.. aaaw.. emak2lyfe..

Kedua, ternyata ekspektasi nggak selalu sesuai realita. Being at home, I imagine a tidy home, delicious home cooking meal everyday, extra time to read books and do my hobbies, self pampering time, etc. Kenyataannya adalah, mandi secepat kilat dan nunggu anak tidur dulu. makan kaya sinetron karena berseri, rumah yaa gitu deh.. you'll know when you have toddler at home. masak? pada dasarnya emang ngga hobby di dapur sih, but I try. ya gitu itu lah ngupas bawang, break, lanjut nyalain kompor, break, matiin lagi, nyalain kompor lagi masukin bahan2, break lagi, matiin lagi kompornya. ahaha. seru sih.

Bersyukur ada fase bisa merasakan jadi ibu yang full time di rumah, bersyukur pula masih diberi kesempatan berkarir demi mengaktualisasikan diri dan of course bantu2 suami. Apapun pilihan yang kamu jalani, niatkan sebagai ibadah. Ngga ada yang lebih baik atau lebih buruk. Saya percaya pasti seorang ibu ingin memberikan yang terbaik bagi keluarganya.

btw, sebentar lagi cuti habis, belum dapet pengasuh buat si baby. 😵

Kamis, 28 Februari 2019

Aluna

Alhamdulillah, Februari 2019 lalu, saya melahirkan anak ke-2. Aluna menjadi salah satu kata yang disematkan pada nama puteri kedua kami (saya dan suami tentunya). Hamil anak pertama dan kedua ini bisa dikatakan cukup berbeda. Kehamilan sebelumnya, sejak ketahuan hamil hingga melahirkan suami tidak mengijinkan saya untuk nyetir sendiri ke Kantor. Alhamdulillah, Suami dapat ijin atasan untuk jadi suami siaga yang bakal antar jemput isterinya ke kantor. So, bisa dibilang waktu hamil anak pertama, terasa jadi nyonya besar yang punya supir pribadi. Hehe. *Special thanks to Pak Suami

Hamil Anak Kedua

Hamil anak ke-2 ini bisa dibilang anugerah yang tidak terduga. Ketahuannya pun nggak disengaja. Waktu menanti kehamilan anak pertama rajin banget nyatet siklus haid dan telat sedikit langsung Test Pack yang sering kali hasilnya (-). Nah, kehamilan ini bener-bener lagi nggak ke-detect siklus haidnya, jadi kalau ke dokter ditanya HPHT, agak susah jawabnya. Hitungan usia kehamilannya hanya berdasarkan pemeriksaan USG. hehe. Ketahuan hamil waktu bulan puasa, itupun karena curiga kok puasa hampir penuh dan nggak datang bulan juga. Kata pak suami, "Kalo firasat Ayah, ibu hamil". Dan ternyata benar.

Kali ini ngga ada yang namanya jadi nyonya besar. Dari ketahuan hamil sampai tiba waktu cuti, Alhamdulillah masih diberi kekuatan untuk beraktifitas seperti biasa. Nyetir sendiri sampai usia kehamilan 9 bulan, sempat juga berpartisipasi sebagai panitia Asian Paragames yang cukup padat kegiatannya. Kalau sebelumnya saya melahirkan sebelum urus cuti, kali ini sengaja cuti lebih cepat untuk antisipasi kalau melahirkan sebelum HPL. Perlengkapan yang akan dibawa ke RS pun sudah siap dimobil jika sewaktu-waktu dibutuhkan. SOP berangkat ke RS juga sudah disiapkan. Ternyata, lahiran kali ini malah mundur dari HPL. Hehe. Hikmahnya dikasih waktu lebih banyak untuk bercengkrama dengan anak pertama yang sebentar lagi jadi kakak.

Saat Menegangkan

Kehamilan kali ini sempat diwarnai dengan ketegangan. Malam minggu, di usia kehamilan 40 minggu, anak pertama saya ingin makan nasi telur pakai kecap. Nasi dan telur sudah siap. Tinggal kecap yang masih harus diambil di kitchen set atas kompor. Seperti biasa dengan gagah berani *halah* saya ambil kursi kayu dan naik ke atasnya, karena posisi kitchen set yang tinggi. Kecap sudah ditangan. ketika turun.. Tidak sengaja kaki saya tersangkut sarung mukena yang saat itu saya kenakan. Jatuhlah saya dengan posisi tengkurap. Perut yang besar itu jadi bumper. 😭

Pikiran saya tentunya langsung tertuju pada kondisi bayi yang saat itu masih diperut. Panik. Langsung kami bergegas ke IGD Maternal yang berada di RSUD Cibinong. Tidak ada SpOG, tidak juga tersedia USG, namun dilakukan pemeriksaan denyut jantung bayi dengan alat doppler. Alhamdulillah detak jantung bayi normal. Kami pun pulang.

Saat ini, kalau mengingat kejadian itu, saya dan suami terbahak berdua. Tapi tentunya tetap bersyukur bahwa kondisi bayi kami baik-baik saja.

Menjelang Melahirkan

Sejak awal kehamilan ini, saya berharap bisa melahirkan secara alami. Alhamdulillahnya semua pihak mendukung, mulai dari suami, keluarga bahkan dokter Sp.OGnya yang juga pro normal. Jadilah ditunggu sampai usia kehamilan 41 minggu, bila memang belum lahir juga mau tidak mau akan dijadwalkan SC. Karena saat kontrol belum ada tanda apa2, dijadwalkanlah SC kedua pada tanggal 22 Februari 2019. Namun ternyata, Allah berkenan saya melahirkan sebelum jadwal tersebut.

4 hari sebelumnya, tepatnya pukul 03.30 WIB, tiba-tiba… Tus.. Seperti ada balon yang meletus didalam perut, dan mengalirlah cairan ketuban yang begitu banyak. Langsung saya bangunkan suami. Masih setengah sadar, kami langsung bergegas. Lagi-lagi saya panik, takut ketuban habis ditengah jalan, karena saya sempat baca bahwa janin dapat kehabisan oksigen beberapa menit bila ketuban habis. Sepanjang perjalanan, saya berdoa dan mengatur posisi sedemikian rupa dengan harapan air ketuban tidak terlalu banyak yang mengalir keluar.

Sesampainya di RS, langsung kami menuju ruang VK. Kami disambut bidan jaga, dan ia berkata "Pipisin aja, Bu". *ziiiiiing.. hening..
Sudah panik takut ketuban habis, sekarang disuruh di keluarkan aja? Hehe. Emang minim pengalaman atau gimana ya? Maklum, sebelumnya ngga ngalami pecah ketuban.

Setelah itu, dilakukan pemeriksaan, ternyata belum ada pembukaan, dan kepala janin belum masuk ke panggul. Baiklah, pasti akan SC hari itu juga. Cita-cita VBAC belum kesampaian, tidak apa yang penting bayi sehat.

Alhamdulillah, Sudah Lahir

Lahirlah puteri kami, anak kedua kami, melalui prosedur SC. Sekarang saatnya mengASIhi. Bismillah. Semoga puteri kami tumbuh menjadi anak yang Sholehah, sehat, cerdas, dan cantik. Dan kami bisa menjadi Orang Tua yang baik bagi anak-anak kami. Aamiin yra.

Welcome, Aluna.